Akhirnya, batu loncatan yang gw tunggu sejak ultah gw kemaren ketemu, waktunya memulai semua dengan lebih serius.
Blog gw pun mulai gw isi setiap hari seperti sebelumnya. mencatat semua kegiatan gw untuk menjadi lebih baik. bukti kalau gw ingin merubah keadaan.
Bagaimana gw bisa temuin batu loncatan gw itu, semua balik lagi ke hari jum'at, hari dimana gw menyampaikan suatu hal, hal yang gw anggap batu loncatan gw.
Hari jum'at, belakang masjid. Awalnya, gw gak tau, kenapa malam itu gw agak sedikit talkative. Gak seperti gw yang biasanya duduk, diam, dan mengamati kegiatan anak risma yang lain.
Malam itu berjalan seperti biasanya, kegiatan bulan puasa yang sudah hampir sebulan ini kita jalani, besok akan sampai pada acara puncaknya. Seperti biasa, anak Risma bercanda-canda, senda gurau dan semacamnya. Hari itu berbeda. Saat biasanya anak-anak kecil yang kita giring ke sini harusnya shalat tarawih disini. tapi malam itu, kami menyuruh anak-anak untuk gabung dengan orang tua di masjid.
Sekitar pukul 8 malam. Salah seorang anak risma menghampiri gw.
"Mas, ntar imam ya, imam tarawih" katanya.
Dahi gw mengernyit. gw diam, mengacuhkan perkataannya tadi. dia pun keluar, keluar dari kamar tempat gw berdiri waktu itu. tak lama, ketua risma masuk. Endry, kembali mengulang perkataan yang sama. gw kembali mengernyit.
"Imam tarawih, cuma buat anak risma aja" tambahnya.
Oh, gw pikir tadi hanya kesalahan, tapi tumben! kayaknya baru kali ini gw imam tarawih, imam dengan hanya anak risma sebagai makmum gw. Anak-anak kecil mulai berdatangan dari arah masjid, bersiap untuk latihan acara-acara puncak besok. Setelah selesai, akhirnya gw imami mereka untuk shalat tarawih.
Selesai. Rapat pun langsung dimulai, membahas untuk acara penutupan besok. Rapat seperti akan berakhir, terbersit suatu hal dipikiran gw, mungkin ini rapat terakhir, gw harus menyampaikan sesuatu. langsung saja, gw angkat tangan, berniat mengajukan tambahan, sebelum itu gw memperjelas keadaan waktu itu.
"dry, ini rapat terakhir bukan di bulan puasa ini?"
"emang kenapa?"
"nggak, kalo ini rapat terakhir, ada yang mau gw sampain"
"kalo lu mau ngomong, silakan aja!"
"ngg, tapi ini rapat terakhir bukan"
"ya, kayanya sih... tapi kalo emang lu mau nyampain sesuatu, mending sekarang aja"
"yaudah..."
"Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh"
Gw memulai pembicaraan. disana, gw menyatakan pengunduran diri gw dari Risma, sesuatu yang gak terbayang akan terjadi selama ini. setelah memohon maaf dan mengucapkan terimakasih, gw pun berhenti bicara.
Gw pikir semua berakhir hanya seperti itu. Berakhir dengan semuanya diam mendengarkan gw bicara. Tapi sebuah suara keluar dari samping gw. Pesek, orang yang bersama gw sebagai pembina salah satu bidang disana.
"ok, gimana kalo sekarang kita satu-satu keluarin unek-unek tentang padonk" kata pesek. Doyok langsung angkat bicara memulai.
Doyok mengutarakan beberapa keluhan dia ke gw. Apa yang bisa gw lakukan? Gw hanya diam mendengarkan. Ada rasa sedih dan senang saat mendengarnya. Saat itu, gw sedang menyambi menghitung sesuatu dengan hp. setelah dia hampir selesai bicara, baru terbersit pikiran untuk merekam semua kata-kata mereka.
Gw pikir, setelah doyok mengeluarkan unek2 yang cukup pedas terhadap gw, yang lain akan mengikuti dengan mengeluarkan sesuatu yang sama pedasnya. tapi, kebanyakan, setelah itu, mereka justru mengutarakan beberapa kebaikan gw. Detik itu, gw lega, walau hanya sedikit yang mereka bisa ucapkan ke gw, tapi gw rasa itu dah cukup, gw tau mereka, dan tau pikiran mereka dari dulu.
Setelah semua selesai bicara, sekarang giliran gw. Gw menyebut mereka satu-persatu. Menilai mereka satu persatu. Sebenarnya, banyak yang ingin gw katakan. Tapi saat itu pikiran gw campur aduk. Gw hanya mengatakan apa yang gw pikirkan setelah melihat muka mereka.
Karena unek2 terakhir keluar dari Iip, maka gw juga mengakhirkan pembicaraan padanya. Iip bisa dibilang sama dengan gw. Orang dari generasi awal masuk risma, setelah dilepaskan oleh generasi diatas kita. Hanya kita berdua yang tersisa dari waktu pertama itu, dalam arti, hanya kita berdua yang masih tersisa, yang berpikir bagaimana kelangsungan risma sejak saat itu sampai sekarang. Jadi, semua gw akhirkan untuk berterimakasih ke dia.
Pada detik itu, pikiran gw melayang, ke tahun-tahun dimana dulu gw masuk risma karena ajakannya. Dimana kita menghadapai kesulitan dalam risma masih dalam koridor 'kesenangan'. Semua kegiatan adalah sukarela, kita justru membuat kesulitan itu sebagai tantangan dan menjadikan itu bahan tertawaan. satu hal yang sulit didapat sekarang ini.
Minggu, 05 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar