Senin, 13 September 2010

Akhir dari liburan, Saatnya mempertajam taring

Udah dari lebaran kemarin, gw menginap di rumah saudara gw. Saudara yang paling dekat, walau banyak hal-hal yang kurang gw suka di sana, tapi sudah kebiasaan gw untuk menginap di sana setiap tahun.

Udah 4 hari, waktunya gw pulang. Harusnya gw dah pulang kemarin. Berhubung gw pikir lebih baik pulang besoknya, yang secara sistematik lebih enak, ya udah, gw balik hari ini.

Dari sana, walaupun gw dah segede ini, tapi setiap pulang, pasti diberi uang untuk ongkos. Yah, kalo dikasih sih gw terima aja, apa salahnya.

Dari Pondok gede, gw naik K40, jurusan kampung rambutan. Angkot masih sepi, gw duduk di depan pintu. disebelah kanan gw ada bapak yang duduk dibelakang sopir. Di tengah jalan, rombongan keluarga naik. Heran, cewek kerudung abu-abu berusia sekitar 20-an masuk pertama, tapi kenapa duduk tepat disamping gw? sambil jalan, mereka asyik ngobrol. Cewek itu seperti sengaja mengucapkan sesuatu secara agak berlebihan. Mungkin cari perhatian. setelah orang disebelah kanan gw turun, gw otomatis geser. Ada orang yang naik, cewek itu lagi-lagi geser ke samping gw.

Lumayan sih tampangnya, dan gw yang waktu itu lagi rapi (biasanya kucel) mungkin agak menarik perhatiannya. Tapi, cewek kerudung yang agak cari perhatiaan, gw kurang suka, jadi gw ambil headphone dan dengerin lagu dari hp sampe terminal.

Di terminal, gw nyari angkot arah Depok. setelah naik, gw sedikit suka dengan sikap supir angkotnya. memang, jalanan sepertinya membuat tampangnya dan bahasanya terasa garang. Tapi dari tutur kata dan kelakuannya, bisa dibilang dia orang baik. dari terminal, hanya gw dan satu orang yang duduk disampingnya penumpangnya, tapi tidak ada keluhan di mukanya. setiap orang yang dikenalnya di terminal dia sapa, dan gak segan orang yang bertanya arah dia jawab dengan sopan. Hmm, orang sunda emang gak usah ditanya :)

di pintu keluar terminal, seorang ibu-ibu berpakaian muslim rapi warna biru gelap memegangi tangan seorang nenek berpakaian warna pink, juga berkerudung. Dia menaikkan nenek itu ke angkot, kemudian dia pergi.

"Disebelah sana aja nek, disini panas" kata gw.

Gw kembali mendengarkan hape gw. Dengan nenek itu, sekarang penumpang ada 3 orang. Gak lama, nenek itu bertanya,

"Depok ya?"

"iya nek" jawab gw. angkot terus berjalan. Dan gak lama, nenek itu mencolek kaki gw.

"nenek gak ada ongkos" katanya. di bawah matanya seperti ada tetesan air mata.

Dibilang seperti itu, dalam pikiran gw yang terlintas hanya beberapa kalimat.

"yah, bu, duit saya pas" jawab gw.

Pikiran gw berkecamuk, dua kubu pikiran yang saling berargumen dalam otak gw. Yang satu ingin memberikan, yang satu lagi ragu karena penilaian diri gw terhadap nenek itu, pakaiannya lumayan rapi.

Padahal, gw masih ada duit ongkos yang dikasih saudara gw. Dan sebenarnya, detik gw bilang itu juga, sebenarnya dalam pikiran gw, gw berpikir untuk membayarinya ongkos. Gw kembali bingung. Hanya diam, menunggu saat yang tepat. Dan disinilah penyesalan gw dimulai. Nenek itu turun.

"bang, saya turun ya, gak ada ongkos" katanya.

Gw sontak bingung, pikiran gw yang masih agak kacau hanya membuat gw diam melihat itu. Tepat disaat dia di depan pintu, sopir pun bicara.

"oh, iya bu, biarin, ibu mau apa?" kata supir dengan nada mengikhlaskan. Saat itu, gw lega, biarlah supir yang menghentikan nenek itu turun, ntar gw yang bayar, dan saat terakhir gw akan kasih ongkos yang dikasih saudara gw. Tapi sayang, nenek itu kurang paham, dia mengatakan ingin turun dan langsung pergi.

Di sana gw terpaku. Apa yang menghalangi gw untuk memanggilnya kembali? Argh, sepanjang jalan gw terus dihantui pikiran tentang hal itu. Apa salahnya kalau tadi gw iyakan? toh akhirnya ntar gw bayar. Kenapa gw tadi hentiin dia pas turun. kenapa, kenapa, dan banyak kenapa.

Kejadian itu begitu cepat. Hasilnya, gw sadar, Gw masih hijau, hanya orang yang masih bodoh berusaha terlihat pintar. Akhirnya, sepanjang jalan sampai tujuan gw terus memaki diri sendiri. Oh, bodohnya diri gw.



Di warnet, gw juga bingung. Tapi gw gak mau buang waktu, gw terus kerjain semua yang bisa gw lakuin. berusaha agar kekonsistenan diri gw gak menurun. Sulit, apa yang gw hadapi ke depan akan tidak menyenangkan. Tapi gw dah ambil keputusan. Hari ini gw dah putuskan, Hari gw mantapkan niat untuk mengubah diri gw.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar