Gak terasa sudah 20 hari keluarga kami dianugrahi oleh penghuni baru. Keponakan pertama gw itu terlahir dengan sedikit kelainan. virus yang menjangkit janinnya ibunya ketika masih hamil, membuat penyumbatan di kepalanya, sehingga dia lahir dengan penyakit hidrosefalus.
Walau lahir dengan kelainan, perawatan pertama di Rumah Sakit telah diberikan. Alhamdulillah, ketika dia sampai di rumah, walaupun kepalanya sebesar kepala orang dewasa, tapi mukanya masih mungil, putih bersih, cantik walaupun dia laki-laki.
Selama berada di rumah, ada suasana berbeda yang terasa. Suara tangisnya yang khas, seolah-olah berirama. Dengan memperlihatkan gusinya yang bentuk mulutnya yang lucu ketika menangis, memberikan kesenangan tersendiri melihat kejadian itu.
hampir setiap gw di rumah, gw coba beri perhatian ke dia. Setiap gw pulang, gw coba mencari dia. Pertama kali, gw memang gak berani menyentuhnya, masih ada perasaan takut untuk memegangnya. kemudian, gw mulai berani memegang badannya, dan kemudian baru memegang kepalanya. Di beberapa bagian kepalanya agak lembek, seperti kulit yang berisi cairan, seperti memegang balon berisi air.
Dari awal melihatnya, gak ada perasaan sedih yang gw tunjukkan. Gw memang gak punya sikap memperlihatkan hal seperti itu terhadap orang yang ada kelainan di sekitar gw. Menurut gw, mereka itu sakit, dan memperlihatkan rasa belas kasihan di depan mereka hanya menambahkan rasa sakit di hati mereka. dan pada waktu itu gw berpikiran, seiring pertumbuhannya, gw akan latih dia untuk memiliki kelebihan, kelebihan yang gak dimiliki orang biasa, dan gw akan lindungi dia.
Tapi Allah memiliki rencana lain. Jum'at malam, setelah gw pulang dari acara RISMA, hanya ada teteh, dan kakak perempuan gw. Ternyata Fawas dibawa ke Rumah Sakit khusus anak yang berada dekat rumah. Padahal, gw gak sempat melihat dia, jadi gw gak ingat terakhir melihatnya waktu itu. Wajah dari teteh dan kakak gw gak menyiratkan sesuatu yang aneh, gw pikir itu biasa, sepertinya Fawas hanya melakukan perawatan.
Katanya, hanya sebentar dia disana, alat yang kurang mumpuni membuat dia harus dilarikan ke Rumah Sakit lain. Menurut ibu gw, disana dokter melakukan semacam bedah, pencucian darah dan sebagainya. Membawa Fawas untuk bepergian jauh, membuat kondisinya semakin melemah.
Dokter hanya dalam selang waktu singkat selalu menyuruh kakak gw untuk membeli obat. Tetangga gw yang ikut ke sana pun ikut heran. Kondisi Fawas semakin lemah, dia dimasukkan secara paksa badannya berbagai obat.
Setelah berbagai kondisi, akhirnya Fawas diputuskan untuk masuk ICU. Ibu gw berkata ke kakak gw, dia berkata, bahwa dia gak mau Fawas dibawa ke ICU. Pengalaman pahitnya dengan kakak perempuan gw dulu dan melihat kondisi Fawas membuatnya tak tega, dan dia menyerahkan keputusan ke kakak gw untuk lebih baik membawanya pulang.
Akhirnya kakak gw memutuskan untuk membawanya pulang secara paksa. Dia langsung mengurus administrasi dan menandatangani semacam perjanjian. Sudah selesai menandatangani, masih saja dokter yang menangani membujuk,
"Ibu benar mau seperti ini, gak berubah pikiran?, bagaimana dengan keputusan keluarganya" katanya.
"Iya, dok, keluarga kami jauh, dan ini sudah keputusan kami" kata ibu gw.
Lalu keluarga gw pulang dengan taksi, membawa Fawas kembali ke rumah. Ditengah perjalanan, kondisi Fawas semakin melemah, sekitar jam setengah empat pagi, masih di dalam taksi, sepertinya Fawas kembali ke pemiliknya. Gak tau gw ekspresi keluarga gw di taksi itu.
minggu pagi itu, Jam empat kurang sepuluh menit, gw dibangunkan kakak gw itu...
"Dek, Fawas dan meninggal" katanya tersedu.
Gw sontak bangun mendengar itu. Gw langsung berputar mencari, gw ke belakang, teteh sedang menangis. Di pangkuannya, Fawas terbaring tak bergerak. Kulitnya cerah, sehat dan putih, keadaan tersehat yang mungkin gw lihat. Dengan keadaan selama ini, walau pertama kali dia datang dengan air muka sehat dan cukup gemuk, tapi selama di rumah, tubuhnya semakin kurus dan kulit dan bagian putih matanya menguning.
"dek, mau cium dek?" kata teteh.
Gw menggeleng, gak cukup kuat hati gw. gw hanya diam mendengarnya. gw mengambil hape gw, mengambil gambarnya. mengambil gambar keadaan tersehatnya walaupun sudah tidak bernyawa.
Tangisan teteh adalah tangisan tabah, dia sabar menerima musibah ini. Tidak lama, datang mas Eko, teman kakak yang seorang dokter untuk memastikan kematiannya. Waktu itu, tepat saat gw malamnya tertidur dan belum sholat isya. Gw langsung wudhu dan sholat, kemudian gw duduk di sofa ruang makan, membaringkan badan, memikirkan kejadian ini.
Kejadian ini persis seperti 2 tahun lalu, disaat gw kehilangan kakak gw yang kedua. Saat itu juga sama seperti sekarang. Mereka pergi ke Rumah Sakit, tanpa ada perasaan tidak enak di hati gw, tidak ada perasaan akan kehilangan di diri gw. Dimana gw merasa kurangnya kesadaran diri gw terhadap hal ini, gw kembali merasa bodohnya diri gw saat itu. Dimana saat kakak gw, gw merasa hubungan gw dengan kakak gw yang dulu pernah renggang dan beberapa saat sebelum sakitnya itu adalah waktu gw lebih merasa dekat denganya, dan saat ini, gw sudah memikirkan pemikiran optimis gw terhadap Fawas.
Dan lagi, kemarin adalah seminggu sebelum hari kelahiran gw, dan yang lebih sakitnya, kakak gw juga meninggal tepat seminggu sebelum hari lahir gw waktu itu. Kenyataan-kenyataan ini cukup menyayat hati gw waktu itu. Gw gak tahan, gw tutup muka gw dengan tangan, air mata pun meleleh, dan gw tertidur sebentar.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar