Rabu, 21 Oktober 2009

Rigid Boy

Erika,
"..."
I can't figure him out... Dia bukan wanita, namanya saja yang seperti itu. Pribadi yang kaku, dengan kulitnya yang hitam dan bentuk muka kebanyakan orang jawa (kurang tahu jawa bagian mana), cukup mungkin membuat anak kecil menangis kalau melihat dia.

Dibalik tampangnya, gw yakin, jiwanya melancholis (suka lagu-lagu kangen band). Kalau tertawa aneh bukan main, masih tetap kaku. sering hal yang tidak lucu seperti lelucon baginya. kami pun sering menertawakan kelakuannya yang aneh.

Nggak jarang ada cekcok hanya karena sikapnya kakunya plus salah paham, gw pun salah satunya. Ditengah saling mengejek,nggak jarang dia kalap. makanya, banyak juga yang nggak suka dengannya. dia pun jarang mengobrol asyik dengan kami. kami sering menertawakannya karena kelakuannya, dan mengejeknya dengan meniru gerakan atau ucapannya pada saat dia berkelahi atau melakukan hal aneh. Satu hal yang aku kurang suka dari dia, kadang dia bangga telah menang berkelahi dan jeleknya akan merendahkan lawan berkelahi dia nantinya. banyak hal membuat kami jarang bicara dengannya. Bukan karena kami menjauhinya, memang dia yang kurang dekat dengan kami. Lebih asyik dengan beberapa teman yang memang agak kurang bercampur juga...

Dan juga, karena namanya yang mirip dengan banci pemilik salon di perempatan suatu universitas, ada beberapa yang memanggilnya Erika salon. hehe...

life is not like an egg in refrigerator. Small, fragile, and frozen. There are only two choices. be rotten or get out of there and can be used for anything else...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar